Dambaan, Hancurlah Sudah...



Nah, setelah sempat vacuum dari dunia blogging saya mencoba memulai kembali aktifitas blogging, dan yang akan saya bahas kali ini adalah mengenai partai final Copa Dji Sam Soe antara Sriwijaya FC Palembang menghadapi Persipura Jayapura yang kebetulan diadakan di Stadion Gelora Jakabaring yang merupakan Home Base dari SFC.



Partai final yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional ini berjalan menarik semenjak peluit kick-off babak pertama dibunyikan, para pemain dari kedua kesebelasan tidak ragu untuk memainkan permainan terbuka seperti halnya yang biasa ditunjukkan pada pertandingan Indonesia Super League. Sebuah blunder yang dilakukan oleh pemain Persipura pada pertengahan babak pertama hampir saja merubah skor menjadi 1-0 andai saja jika pemain SFC mampu menyambut halauan bola yang salah dilakukan oleh Bio Pauline. Hingga turun minum skor 0-0 tetap tidak berubah.



Akhirnya gol yang ditunggu-tunggu oleh SMS(Singa Mania Sumsel, Supporter SFC) datang pada menit ke 51, berawal dari sebuah serangan balik M. Nasuha berhasil memberikan sebuah crossing yang kemudian menjadi sebuah gol melalui tandukan dari Obiora, 1-0 untuk Sriwijaya. Sampai menit 58 semuanya masih berjalan normal hingga akhirnya memasuki menit ke 60, Persipura memutuskan untuk Walk Out dari pertandingan. Hal ini mungkin disebabkan oleh pelanggaran Ferry Rotinsulu terhadap Ian Kabes di kotak 16 dan juga sebuah hands ball oleh Jack Tsimi yang tidak menghasilkan penalti untuk Persipura.



Semua pemain Persipura melayangkan protes keras kepada wasit Purwanto, namun wasit berusia 46 tahun tersebut tetap pada keputusannya, yakni tidak memberikan hadiah penalti pada Persipura, akhirnya para pemain Persipura pun melakukan walk out dari pertandingan hingga yang tersisa di bench hanya pelatih Jackson F. Tiago. Kejadian tersebut sampai membuat ketum PSSI, Nurdin Halid turun ke lapangan dan berusaha membujuk pemain Persipura untuk kembali melanjutkan pertandingan, setelah pemain Persipura walk out, supporter Persipura yang ada di Jakabaring pun ikut dievakuasi untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.



Setelah lebih dari 1 jam PSSI dan BLI memberikan keputusan bahwa Sriwijaya FC menang WO dari Persipura dan menjadi juara Copa untuk kedua kalinya secara beruntun. Selain juara, pemain SFC, Anarou Obiora mendapatkan gelar pemain terbaik. Ini sepakbola, apapun bisa terjadi, dari pertandingan menarik dapat berubah menjadi pertandingan yang memalukan, mungkin ini yang harus dibenahi oleh PSSI dan BLI selaku penyelanggara liga untuk “merehabilitasi” sepakbola Indonesia. Sekali lagi selamat untuk Sriwijaya FC sebagai juara Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008-2009.



Pemain terbaik : Anarou Obiora(Sriwijaya).

Top Skorer : Syamsul Arif(Persibo) dan Pablo Frances(Persijap).

Juara 1 : Sriwijaya FC mendapat Rp. 2,4 Miliar.

Runner Up : Persipura mendapat Rp. 750 juta.

Jurara 3 : Deltras mendapat Rp. 350 juta.

Perseteruan Dua Negara Bersaudara

Dua Negara yang dimaksud diatas adalah Indonesia dan juga negeri Jiran Malaysia. Kenapa bersaudara? Karena, dilihat dari keturunan suku MALAYAN MONGOLOID dan sama sama berlatar belakang Melayu.

Sebelum memulai tulisan ini saya mengingatkan bahwa saya membuat tulisan ini bukan untuk menyudutkan satu kelompok ataupun etnis, tapi ini merupakan berdasarkan keadaan yang terjadi beberapa tahun ini. Perselisihan antara dua negara Melayu ini dimulai sekitar tahun 1960-an, saat itu terjadi perselisihan antara batas laut antar kedua negara ini di sekitar perairan utara Kalimantan Timur. Namun, akhirnya kedua negara menyepakati perjanjian batas laut yang ditandatangani pada 27 Oktober 1969.

Meski sudah menandatangani perjanjian tapi tetap saja muncul masalah ketika pada tahun 1979 Malaysia membuat peta sepihak yang membuat hubungan dengan negara tetangganya seperti Singapura, China, Filipina, Brunei serta Indonesia geram. Namun, Indonesia yang sepertinya sangat dirugikan karena, Malaysia mengklaim bahwa Ambalat masuk kedalam wilayahnya, klaim tersebut bertentangan dengan perjanjian tahun 1969 karena Ambalat sudah paten menjadi milik Indonesia.

Bukan hanya mengenai masalah daerah kedaulatan, masalah kemanusiaan yang dialami WNI(khususnya TKI-legal maupun illegal) di Malaysia pun menjadi hal yang sering diberitakan di mass media dalam beberapa waktu tertentu, ini yang membuat warga Indonesia berpandangan buruk terhadap negeri Jiran tersebut. Bukan hanya TKI yang menjadi korban bahkan para mahasiswa Indonesia pun sering menjadi sasaran para pasukan “RELA”.

Seakan belum puas dengan dua hal diatas, Malaysia pun mematenkan beberapa budaya asli tanah air kita dalam kurun waktu tahun 2008 lalu, seperti reog dan batik yang kemudian mendapat kecaman keras dari rakyat Indonesia. Namun, sepertinya yang paling menyakitkan adalah lepasnya dua pulau Indonesia yaitu Sipadan dan Ligitan beberapa tahun lalu setelah diputuskan oleh Mahkamah Internasional, ini konon dikarenakan Indonesia tak pernah mencantumkan kedua pulau tersebut yang akhirnya lepas dan menjadi milik Malaysia.

Akhir-akhir ini pasti kita mengetahui berita mengenai penerobosan wilayah NKRI diblok Ambalat oleh kapal perang angkatan laut tentara Diraja Malaysia pada minggu lalu, apakah ini merupakan suatu pertanda bahwa Malaysia benar-benar menginginkan wilayah Ambalat menjadi wilayahnya yang diperkirakan memiliki potensi cadangan minyak yang sangat besar setelah diteliti tahun 2005 lalu, ataukah ini hanyalah sebuah “testing” bagi para calon pemimpin baru kita untuk lebih memperhatikan wilayah perbatasan yang rawan akan penerobosan oleh pihak asing dan bagi warga Indonesia akan pentingnya rasa persatuan dan kesatuan yang dari tahun ke tahun semakin luntur?